Lebih Dahulu Mana, Pendengaran atau Penglihatan di Dalam Al-Qur'an?





Indra manusia yang pertama kali berkembang dalam embriologi adalah pendengaran. Janin dapat mendengar setelah berumur 24 minggu. Selanjutnya, indra penglihatan akan berkembang dan pada umur 28 minggu retina akan mulai peka terhadap cahaya.

Ayat-ayat yang menerangkan perkembangan indera dalam embrio adalah :
"Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah:9)

"Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat." Qs. Al-insan :2

"Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Tetapi amat sedikit sekali kamu bersyukur." Qs. Al-Mu'minun:78

Dalam ayat-ayat ini indera pendengaran disebutkan sebelum indra penglihatan. Dengan demikian pernyataan Al-Qur'an selaras dengan penemuan-penemuan embriologi modern.


Sumber: Miracles of Al-Qur'an dan As-Sunnah (Dr. Zakir Naik)

Baca juga:
Gerhana matahari oleh Dr. Zakir Naik
Baca Selengkapnya

Bahaya Lisan





Diambil dari ceramah ustadzah Aafiyah Makkah dari group wa Taj Al Waqar 
Terjemah oleh kak Annisa

Pelajaran mahal, jika menggibahi orang, maka pahala kita akan megalir kepada orang yang kita benci. Kita banyak berbicara tanpa menjaga kata-kata kita. Yang melakukan ini memiliki semangat yang buruk. 

Mereka bahkan bisa menggibahi orang yang mereka cintai. Kita semua tahu bahwa fitnah adalah haram. 

Bahaya dosa dari lidah diantaranya seseorang membicarakan antara saudaranya keburukan atau kekurangannya yang ia tidak sukai bila dibicarakan. 

Mereka berkata, wahai Rasulullah bagaimana jika yang aku bicarakan adalah memang sesuai dengan keadaannya? Rasulullah menjawab jika ia sungguh  seperti itu maka engkau telah menggibahinya, tapi kalau keadaannya tidak benar maka kamu telah melakukan fitnah. Sayangnya amat banyak orang melakukan ghibah ini kecuali bagi orang-orang yang Allah beri taufiq terlindung dari nya. 

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. Muslim no 2589

Menjaga lisan dari ghibah adalah hal yang sangat berat, contoh kamu ketemu wanita dari daerah atau negara lain yang kamu tidak sukai lalu kamu katakan, "wanita dari negara fulanah biasanya buruk sekali kelakuannya", ketahuilah kamu sudah menggibahi semua wanita dari daerah atau negara tersebut.  Dan kelak di akhirat akan bertemu dengan semua wanita tersebut untuk dimintai pertanggungjawaban. Bayangkan bila ada 1000 wanita. Mereka semua minta pertanggangjawaban darimu. Lalu bagaimana kamu bisa menyelamatkan dirimu?

Kadang di medsos, mereka membuat meme tentang kejelekan 3 orang wanita dari 3 negara yang menggambarkan keburukan wanita negara itu secara umum. Dan ini adalah ghibah. contoh lain seorang wanita menggibahi seorang laki-laki yang mengatakan ,"Dasar laki-laki mah semuanya jelek, nggak jujur, dll. Maka di akhirat kamu akan bertemu dengan semua laki-laki tersebut dan dimintai keadilan. Contoh yang sama: Di Mesir ada pepatah, "Kalau kamu mempercayai laki-laki sama dengan kamu percaya pada air di saringan." 


Mungkin ada wanita yang ngomongin tentang anaknya, "anakku begini, anak wanitaku begitu." ini juga masuk dalam ghibah. Jadi ingat-ingatlah apa itu ghibah yaitu kamu memberitakan tentang aib atau hal seseorang yang ia benci bila dibicarakan meskipun itu adalah anakmu sendiri atau suamimu sendiri. Bahkan kalau  kamu membicarakan keburukan suami mu dihadapan anakmu.


“Dari Abu Hudzaifah dari ‘Aisyah bahwasanya beliau (‘Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau (‘Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”….maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” (Riwayat Abu Dawud no 4875 dan Ahmad (6/189,206), berkata Syaikh Abu Ishaq : “Isnadnya shohih”)

Maka memberikan isyarat-isyarat yang merendahkan orang lain maka ini termasuk ghibah.  Sama halnya mengatakan tentang seseorang bahwa ia narsis, sombong, maka ketahuilah kamu telah menggibahinya. Kamu telah mengatakan kalimat yang bila kamu lemparkan ke laut maka ia akan berbau.

“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu”. Sebagian rawi berkata :”’Aisyah mengatakan Shofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya”


‘Ubaid ra, bekas budak Nabi saw yang telah dimerdekakan mengisahkan,  bahwasanya ada seseorang datang dan mengabarkan kepada Nabi saw tentang dua orang wanita yang berpuasa dan sekarat karena kehausan.  Nabi saw berpaling tanpa bicara dan menolak mengijinkan wanita-wanita itu berbuka.  Lalu, orang tersebut memohon kembali dengan menggambarkan wanita-wanita itu telah hampir mati.  Nabi saw berkata, “Bawa mereka kepadaku dan bawa pula sebuah mangkuk.”  Ketika mereka telah menghadap, beliau menghadap ke salah seorang wanita itu dan memerintahkannya untuk muntah ke dalam mangkuk.  Ia melaksanakannya dan mengeluarkan campuran darah, nanah, muntah dan dagung busuk yang memenuhi setengah mangkuk.  Beliau segera berpaling kepada yang lain dan memerintahkan hal yang sama.   Setelah mangkuk tersebut penuh, beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua orang ini telah berpuasa menahan diri dari apa yang dihalalkan Allah, dan membatalkan puasa mereka dengan apa yang diharamkan Allah.  Mereka menghabiskan waktu puasanya dengan memakan daging bangkai orang lain.”[HR. Imam Ahmad]


Dari mana daging berasal ketika perut mereka kosong? Mereka sekarat karena kelaparan? Allah menunjukkan kepada orang-orang mukjizat, bahwa fitnah kenyataannya seperti memakan daging orang tersebut.


Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata, Kami bersama nabi shallallahu'alaihi wasallam ketika angin bertiup kencang berbau tidak enak. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berkata, "Apakah anda tahu angin apa ini? Ini adalah dari orang-orang yang memata-matai orang beriman." (Dihasankan oleh syeikh al-albani)

Cerita lain, seorang laki-laki bertanya tentang mimpinya, ia melihat dirinya menanam pohon tapi selalu diambil oleh syaikh Sudais. Tanaman hijau adalah tanda mimpi yang baik. Syaikh bertanya, "apakah kamu pernah menggibahi syaikh Sudais?,"  Ia menjawab, "Tidak, aku hanya mengomentari cara bacanya dan mengatakan syaikh lain lebih baik bacanya  dari pada syaikh Sudais." 


Bayangkan ia tidak menyadari kalau perkatannya telah berghibah.


Ada wanita yang juga kerap bermimpi, ternyata ia hanya pernah komentar tentang menantunya bahwa ia kalau masak selalu kurang garam, kurang matang. Benar-benar hal yang dianggap remeh dan tidak bermaksud berbuat buruk namun ini ternyata mengambil pahalanya. Maka bayangkan bagaimana pula kalau seseorang memang berniat untuk berghibah?


Lalu bagaimana kita bertaubat kepada Allah?


Pertama kita fokuskan diri untuk berhenti dari ghibah. Sebelum bicara tentang bagaimana cara taubatnya, kita bicara bagaimana bisa berhenti ghibah. Karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. Maka hindari orang yang suka berghibah. Reaksi pertama jika kamu bertemu dengan orang yang menggibah adalah hentikan dia dan lindungi dirimu sendiri dari neraka. Berdoa, agar Allah mensucikan lisan-lisan kita


Kedua, hindari bertemu dengan ahli ghibah.


Jika tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar maka meminta maaf kepada orang yang telah dighibahi. Ini perkara yang berat. Tapi apakah kamu bisa menanggung dosamu kelak digantungkan di lehermu?


Solusi ketiga, banyak beristighfar dan memintakan istighfar kepada orang yang pernah dighibahi dan bersedekah atas namanya dan mendoakan kebaikan baginya.


Lalu kapan kamu boleh membongkar atau mengadukan problemmu pada orang lain?

1. Di hadapan hakim.
2. Dihadapan mufti (ustadz yang kompeten) untuk menanyakan perkara ini bagaimana hukumnya.
3. Saat konsultasi kepada ahlinya dan hanya mengungkapkan yang perlu diketahui untuk mencari solusi.
4. Sebagai pengajaran atau hikmah seperti istri kepada suaminya menceritakan kelakuan nakal anaknya untuk membenarkan kelakuannya.

semoga Allah memberi limpahan Rahmat dan kasih sayang nya kepada kita semua.














































Baca Selengkapnya

Wanita Haid Boleh Baca Al-Quran ?? (Bagian 2)



PERTANYAAN
Bismillah 
Mohon penjelasannya ustad, dalil Wanita haid boleh baca Al Qur'an???


JAWABAN
Kesimpulannya: Wanita haidh / nifas baik seorang penghafal Al-Quran atau bukan; boleh membaca Al-Quran namun tanpa menyentuh mushaf secara langsung karena ia dilarang menyentuh mushaf (akan dijelaskan setelah ini). Ia juga boleh membaca Al-Quran lewat tulisan Al-Quran dalam buku tafsir, atau terjemahan, atau Aplikasi Al-Quran yang terdapat pada HP atau Laptop dll.

🍃 Catatan 1: Lalu apakah wanita haidh membaca Al-Quran dengan berbisik ?
Yang benar adalah ia boleh membaca Al-Quran dengan suara keras, berdasarkan dalil-dalil yang dijelaskan sebelumnya.

🍃 Catatan 2: Orang yang hadats termasuk haid atau nifas tidak dibolehkan menyentuh mushaf secara langsung sesuai amalan para sahabat radhiyallahu'anhum: Ada beberapa sahabat yang melarang seorang muslim menyentuh mushaf dalam kondisi berhadas baik kecil ataupun besar, diantaranya:

•1. Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu'anhu dengan sanad shahih sebagaimana dalam riwayat Malik dalam Muwaththa' (128): "Dari Mush'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqash  berkata: Saya memegang Mushaf untuk (mendengarkan bacaan) Sa'ad bin Abi Waqqash, tiba-tiba saya kegatalan (dan menggaruk kemaluanku), maka Sa'ad berkata padaku: "Apakah engkau memegang kemaluanmu (tanpa pelapis)"? saya menjawab: ya. Maka ia berkata: "Berdiri dan berwudhulah", maka sayapun berdiri dan pergi berwudhu, lalu kembali padanya".
Atsar dari Sa'ad ini sangatlah shahih, dinukil juga oleh Ibnu Abi Daud dalam Mashahif (303-304) dalam bab: "Apakah orang yang memegang kemaluannya boleh memegang mushaf??", Juga Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (1/142) dibawah bab: "Larangan orang berhadas dari menyentuh Mushaf".

•2. Salman Al-Farisi radhiyallahu'anhu: dengan sanad shahih (HR Ibnu Abi Syaibah: 1100, Daruquthni: 1/123, Hakim: 1/183) dari jalur AbdurRahman bin Yazid ia berkata: Adalah kami bersama Salman, lalu ia pergi buang hajatnya (buang air) dan kembali, kami lalu berkata padanya: Berwudhu'lah wahai Abu Abdillah, mungkin saja kami akan bertanya padamu tentang ayat Al-Quran, maka ia berkata: "Tanyalah saja, karena saya tidak akan menyentuhnya, sesungguhnya ia (Al-Quran) tidak disentuh kecuali orang-orang yang disucikan". Kemudian kami bertanya padanya tentang ayat Al-Quran dan beliau membacanya (tanpa menyentuh Mushaf) dengan tanpa berwudhu terlebih dahulu". Hadis ini sanadnya shahih, juga dinilai shahih oleh Daruquthni dan Hakim.

•3. Aisyah radhiyallahu'anha sebagaimana yang disebutkan Ibnu Al-Baththal dalam Syarah Bukhari (1/415), dan Ibnu Mulaqqin dalam kitabnya yang fenomenal "At-Taudhih Syarh Al-Jami' Ash-Shahih" (5/26) bahwa Aisyah radhiyallahu'anha dahulu membaca Al-Quran dalam keadaan haid, sedangkan Mushafnya dipegangkan oleh orang lain, dan dia tidak memegangnya secara langsung. Walaupun atsar Aisyah ini merupakan salah satu dalil jumhur ulama, namun saya tidak mendapatkan riwayatnya yang bersanad dalam kitab-kitab hadis. Akan tetapi dua riwayat dari Sa'ad bin Abi Waqqas dan Salman Al-Farisi diatas telah cukup menunjukkan bahwa orang yang berhadas termasuk kecil atau besar tidak boleh menyentuh mushaf, dan tidak diketahui dari kalangan sahabat yang menyelisihi mereka dalam hal ini.

Sebab itu, bila ingin membaca Al-Quran dari mushaf, hendakanya menggunakan pelapis tangan, atau lewat HP, atau buku-buku tafsir yang ada tulisan mushafnya. Wallaahu a'lam.

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. MA Hafizhahullah
(Alumni S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀 Grup WA Belajar Islam Intensif 🍀

Baca Selengkapnya

Wanita Haid Boleh Baca Al-Qur'an? Bagian 1

Pertanyaan:
Bismillah,
Mohon penjelasannya ustadz, dalil wanita haid boleh baca Al-Qur'an.

Jawaban:
Bismillah
Banyak dikalangan ulama yang megharamkan wanita haid/nifas untuk membaca al-qur'an dengan berdalil diantaranya:
1. HR. Tirmidzi (131) dan Ibnu Majah (595) dari Ibnu Umar radhiyallahu'anha bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda yang artinya: "Wanita haid atau junub tidak boleh membaca sesuatu pun dari Al-Qur'an."

Namun hadits ini dinilai dhaif oleh banyak para ulama termasuk Imam Ahmad, Bukhari dan ulama lainnya karena ia merupakan riwayat Ismail bin 'Ayyasy dari ahli hijaz (selain ahli syam) dihukumi dhaif. (lihat Nashb Ar-Rayah: 1/195 dan Talkhis Al-Habir: 1/183).

2. Qiyas/penyamaan hukum antara wanita haid/nifas dengan orang junub yang haram membaca al-Qur'an . Artinya orang junub dilarang baca al-Qur'an karena ia dalam kondisi hadats besar. Dalil tidak bolehnya orang junub baca al-Qur'an adalah hadits Ali radhiyallahu'anhu
"Bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam selalu mengajarkan mereka Al-Qur'an dan tidak ada yang menghalanginya kecuali ketika ia junub." (HR. Abu Daud; 1/281, Tirmidzi:246, Nasai:1/144 dan Ibnu Majah: 1/207, hasan)

Namun tentunya dua pendalian ini tidak sepenuhnya benar karena keduanya tidak kuat dengan alasan sebagai berikut:
1. Bahwa pada dasarnya wania haid/nifas boleh membaca al-qur'an kecuali ada dalil shohih lagi tegas yang melarangnya dari membaca al-qur'an. Sedangkan dalil hadits larangan wanita haid/nifas membaca al-qur'an adalah hadits dhaif sebagaimana telah dijelaskan diatas. Hal ini dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. "Tidak ada hadits shohih lagi tegas yang melarang wanita haid membaca al-qur'an." Juga berkata, "Tentunya sudah lumrah bila kaum wanita mengalami haid pada masa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, namun tidak ada satu dalil shahihpun yang menunjukkan beliau melarang mereka membaca al-qur'an  seperti halnya beliau juga tidak melarang mereka dari berdzikir dan berdoa." (Majmu' Fatawa: 21/460 dan disebutkan juga dalam :https://islamqa.info/ar/2564)

2. Qiyas/penyamaan hukum antara wanita haid dan orang junub tidaklah shahih atau benar, yang dalam istilahnya: Qiyaas Ma'al-Faariq. Hal ini disebabkan oleh dua alasan:
pertama: Orang junub bisa sekehandaknya untuk membaca al-qur'an dengan sekedar mandi wajib yang menghilangkan jenabahnya sehingga kapanpun ia mau membaca al-qur'an, ia bisa melakukannya dengan sekedar mandi wajib terlebih dahulu.
kedua: Bahwa jangka waktu junub sangatlah singkat, berbeda dengan jangka waktu haid atau nifas yang berlangsung selama berhari-hari.

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata: "Seorang wanita haid atau nifas tidak apa-apa membaca yang mudah baginya dari al-Qur'an dengan hafalan (tanpa menyentuh langsung al-qur'an), karena dalil-dalil syar'i menunjukkan hal ini. Dan orang yang melarangnya membaca al-qur'an berdalil dengan hadits dhaif riwayat Abu Daud dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu bahwa Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Wanita haid atau junub tidak boleh membaca sesuatu pun dari al-qur'an" hadits ini dhaif menurut para ulama karena ia merupakan riwayat Ismail bin Ayyasi dari ahli hijaz  (selain ahli syam) dihukumi dhaif …  Sebagian ulama meng-qiyas-kannya dengan orang junub … Bantahannya adalah: bahwa Qiyas ini tidak shahih, karena kondisi haid / nifas berbeda dengan kondisi junub, karena masa haid atau nifas sangatlah panjang sehingga akan membuat para wanita kesulitan (belajar Al-Quran), atau bahkan membuat mereka banyak melupakan hafalannya, sedangkan masa junub maka sangatlah singkat, kapan orang junub mau membaca Al-Quran maka ia langsung mandi, lalu baca Al-Quran, sebab itu tidak boleh meng-qiyas-kan haidh (atau nifas) dengan junub. Olehnya itu, pendapat yang benar dari dua pendapat ulama tersebut adalah: tidak mengapa wanita haid / nifas membaca hafalan Al-Qurannya, juga boleh baginya baca ayat Kursi sebelum tidur, dan seluruh waktu dengan hafalannya, inilah pendapat yang benar, dan hukum asalnya, sebab itu ketika Aisyah radhiyallaahu'anha haid pada masa haji wadaa', Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang berhaji selain tawaf di Ka'bah hingga engkau suci." (Muttafaq'alaihi). Disini Nabi tidaklah melarangnya dari bacaan Al-Quran, padahal sudah lumrah bahwa seorang yang berhaji pasti membaca Al-Quran." Selesai. (http://www.binbaz.org.sa/fatawa/331)

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. MA Hafizhahullah
(Alumni S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀 Grup WA Belajar Islam Intensif 🍀

Baca Selengkapnya

Mengobati Luka Nanah dengan Sedekah




Dari Ali bin al- Hasan bin Syaqiq berkata, "Saya telah mendengar Ibnu al-Mubarak telah ditanya oleh seseorang, 'Wahai Abi Abdurrohman, sebuah luka yang mengeluarkan nanah dari lututku telah tujuh tahun lamanya, dan sungguh saya telah mengobatinya dengan berbagai pengobatan dan saya telah tanyakan kepada beberapa dokter namun tidak ada gunanya bagi saya, dia berkata, 'Pergilah ke suatu tempat dimana manusia membutuhkan air padanya lalu galilah sumur disana, karena saya berharap disana muncul mata air hingga darah lukamu itu berhenti,' lalu orang tersebut melakukan saran itu maka dia sembuh dari sakitnya dan segala puji hanya milik Allah."

Al-Baihaqi berkata, "Dalam makna yang seperti ini juga, terdapat cerita syaikh kita, al-Hakim Abu Abdullah rodhiyahllahu'anhu dimana wajahnya telah terluka dan dia telah berobat dengan berbagai macam pengobatan, namun luka tersebut belum juga sembuh hingga kira-kira setahun lamanya, lalu dia memohon kepada seorang ustadz, imam Abu Utsman ash-Shabarani agar mendo'akan kesembuhan untuknya dalam majelisnya di hari jumat, lalu sang ustadz mendo'akannya dan sebagian manusia mengaminkan doanya. Ketika tiba hari jumat berikutnya seorang wanita dalam majelis dilemparkan selembar kertas kepadanya berisi perintah agar dia pulang ke rumah nya. Lalu dia berungguh-sungguh dalam berdoa untuk al-Hakim Abu Abdullah pada malam tersebut, kemudian dia bermimpi melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda kepada nya, 'Katakanlah kepada Abu Abdullah agar dia memberikan air kepada kaum muslimin,' lalu saya membawa selembar kertas tersebut kepada al-Hakim, dan kemudian dia memerintahkan untuk membangun saluran air di depan rumahnya dan ketika mereka selesai membangunnya, maka dia memerintahkan untuk menumpahkan air ke dalamnya dan melemparkan es ke dalam air, lalu orang-orang memanfaatkan air dari sumur tersebut untuk kebutuhan minum mereka dan tidak lewat dari seminggu, terlihatlah kesembuhan lukanya dan lenyaplah luka tersebut, lalu kembalilah wajahnya seperti sediakala dan dia hidup setelah kejadian itu beberapa tahun.
(At-Tijarah ar-Rabihah lihat Muhammad Hamid Abdul Wahhab. Kisah ini telah disebutkan kepadaku ustadz Ahmad Salim Badawilan dalam dialognya bersamaku yang ia ceritakan dari salah seorang teman nya. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-kabir dengan isnad yang hasan)


Semoga bermanfaat
Sumber : Buku Keajaiban Sedekah dan Istighfar (Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam).



Baca Selengkapnya

Program Hamil Abaikan Waktu Subur




Teringat waktu awal2 menikah. Hal pertama yg seringkali orang tanyakan adalah "Sudah hamil kah?" "Sudah ada isi kah?" dengan logak makassar pertanda bercanda atau hanya pertanyaan basa-basi. Namun justru dengan pertanyaan2 seperti itu mempengaruhi pola pikir kami sebagai orang yang baru saja melangsungkan pernikahan. Usia pernikahan belum juga sampai sebulan namun beberapa teman sudah ada yang menanyakan hal tersebut, baik itu melalui WhatsApp atau pun bertemu langsung. Hal ini sangat wajar karena bagi seorang teman apalagi keluarga sangat bahagia jika mendengarkan kabar bahagia datang lagi dari kami yang baru saja memberikan kebahagiaan kepada mereka lewat acara pernikahan kami.

Dan hal ini tentu saja bukan hanya kami yang mengalaminya namun boleh jadi hampir seluruh pasangan muda mengalami hal yang sama dimana teman-teman dan keluarga yang mereka nanti-nanti adalah kabar positif hamil dari pasangan yang baru saja menikah (Masya Allah).

Karena alasan di ataslah kami ingin berbagi sedikit tips bagi istri muda ataupun istri lama (smile) yang belum dikaruniai seorang anak agar tidak stres menanti sang buah hati.

Sesungguhnya kata kuncinya adalah tawakkal dan berdoa. Tawakkal merupakan bentuk upaya sedangkan doa adalah berserah diri kepada Allah atas usaha yang telah dikerjakan,  bagaimanapun hasilnya terserah Allah kami sabar, ikhlas, insya Allah, dan tetap akan berusaha terus sampai kapan pun dengan izin Allah.

Pertama abaikan hari subur, dan yakinlah bahwa hari apa pun kita berhubungan jika Allah berkehendak insya Allah akan jadi "Kun fayakun" dan setelah berhubungan atau sebelum berhubungan berdoalah meminta kepada Allah semoga hubungan kita saat itu diberkahi Allah. Jadi yang kita upayakan adalah mencari keberkahan saat berhubungan.

Berikut kisah salah satu sahabat semoga bisa mengambil ibroh di dalamnya. Dalam riwayat Muslim
Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, "Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya." Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, "Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka memita pinjaman mereka lagi, apakah tdk dibolehkan untuk diambil?" Abu Tholhah menjawab, "Tidak." Ummu Sulaim, "Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu." Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, "Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hingga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tetang kematian anakku?" Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau. Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam pun mendo'akan, "Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu." Akhirnya Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144)

Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam mendoakan agar hubungan mereka malam itu mendapat keberkahan dari Allah. Boleh jadi keberkahan tidak turun karena seorang istri melayani suaminya tidak dengan tujuan menyenangkan hati suami.  Wallahu'alam (dalam hal ini jangan bandingkan dengan cepatnya seorang wanita hamil diluar nikah apakah mereka dapat keberkahan dari Allah, please jangan samakan, kalau ini mah justru Allah memberikan kehinaan dengan cepatnya hamil dan merupakan aib yang sangat besar bagi pelakunya)

Terkadang seorang istri yang sangat mengharapkan hamil, tidak mempedulikan lagi keberkahan berhubungan, yang ada dipikiran mereka adalah jadwal hari subur tiap bulan tanggal berapa sampai tanggal berapa, sementara suami melakukannya kadang diluar dari jadwal hari subur sang istri, sehingga karena hal ini ada rasa tidak senang. Yang ada hanya menyalahkan suami dalam hati.

Bukan berarti kami tidak sepakat dengan hari subur, tapi kami lebih kepada meraih keberkahan Allah. Ada banyak kisah orang hamil diluar dugaan  medis, yang normalnya tidak mungkin hamil saat itu namun nyatanya tetap hamil juga. Wallahu'alam

Untuk usaha-usaha lain seperti bekam dan ruqiyah diri sendiri, begitupun dengan suami. Karena penyakit yang muncul dalam tubuh biasanya karena ada gangguan jin. Wallahu'alam

Memperbanyak sedekah dan istighfar. Bukan hanya istighfar setiap dzikir pagi dan sore namun di Setiap kesempatan beristigfarlah kepada Allah entahkah pada saat memasak, duduk2, baring2 dan sebagainya.

Abu Hanifah meriwayatkan dalam musnadnya dari Jabir bin Abdullah rhodiyallahu'anhu bahwasanya seseorang datang kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, saya tidak diberikan rezki seorang anak pun sehingga saya tidak memiliki anak," lalu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

"Dimanakah kamu dari memperbanyak istighfar dan memperbanyak sedekah, karena engkau akan diberi rizki (anak) dengan sebab keduanya."

Dan laki-laki tersebut akhirnya memperbanyak istighfar dan sedekah. Jabir berkata, "Dan laki-laki tersebut diberikan sembilan anak laki-laki." (Diambil dari buku Keajaiban Sedekah dan Istighfar oleh Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam)

Sedangkan bersedekah kami nasehatkan bersedekahlah setiap hari setiap pagi sebelum subuh atau setelahnya terserah. Buat celengan infak dalam kamar sehingga setiap pagi bisa kita isi minimal seribu rupiah, tidak perlu banyak-banyak sebab Allah menyukai ibadah yang terus-menerus kita kerjakan meskipun jumlahnya sedikit.

Dari 'Aisyah beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai Allah. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menjawab,
"Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit."


Kenapa bersedekah baiknya tiap hari?, karna

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)

Kemudian jangan lupa untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan beradab. Jika kita mengatakan kepada seseorang  "Berdoalah kepada Allah", dijawab "ia kami sudah berdoa". Mungkin berdoa belum bersungguh -sungguh. Berdoalah kepada Allah setiap saat satiap hari setiap habis sholat dengan doa yang khusyuk dan beradab. Kalau bisa jangan ada waktu sholat yang terlewati tanpa berdoa kepada Allah. Doa yang beradab adalah doa yang diawali dengan puji-pujian kepada Allah kemudian meminta tidak dengan sangat dirincikan.

Terakhir yakin lah bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha penyayang. Serta bersabar. Semoga kita tidak pernah berputus asa dari Rahmat dan pertolongan Allah.

Semoga artikel ini sedikit membantu buat istri2 yang program hamil.
Wallahu'alam

Ditulis oleh Aina Ummu Ayyash











Baca Selengkapnya

Ternyata, Beginilah Kondisi Para Ibu Rumah Tangga

Siapa sangka berprofesi sebagai  ibu rumah tangga bukanlah sesuatu hal yang mudah. Ada banyak pekerjaan rumah yang menumpuk setiap harinya. Belum lagi mengurus rumah dan dirinya, seorang ibu rumah tangga harus mengurus suaminya terlebih dahulu dan anak-anaknya bagi yang sudah memiliki anak barulah kemudian ia mengurus dirinya.  
 
Hal yang paling menarik dari seorang ibu rumah tangga dan mungkin banyak orang yang tidak mengetahuinya termasuk para suami yang super cuek terhadap urusan rumah dan segala isinya adalah setiap pagi kami para ibu-ibu atau istri-istri selalu pusing dengan menu apa yang harus kami sajikan di rumah. Awalnya aku berfikir bahwa mungkin hanya akulah yang pusing setiap hari harus masak apa karena selama ini dirumah ibu terus yang masak. Begitupun selama kuliah aku termasuk  orang yang jarang masak (yah sekali-kali masak pernahlah). Palingan makan yang praktis-praktis saja indomie campur telur campur nasi atau beli makanan di warung.
 
Ternyata hal yang aku rasakan juga dirasakan oleh seluruh ibu-ibu yang aku kenal di sekitar rumah. Dan mungkin juga jika ditanya seluruh ibu-ibu yang memasak sendiri dirumahnya, mereka akan jawab dengan jawaban yang sama denganku. Sebab yang aku perhatikan, mulai dari ibu-ibu di Palembang sampai dengan ibu-ibu di tempatku sekarang ini yaitu di Bengkulu semuanya sama. Dimana setiap datang  waktu pagi, mereka pada  pusing campur bingung mau masak apa lagi. Jika mau masak sayur, sayur apa trus mau diapakan lagi cara masaknya, jika mau masak ikan, ikannya dibuat apa, di goreng saja, atau di masak saja atau dibuat apa, jika mau masak ayam, ayamnya mau diapakan. Yang ada dipikiran kami adalah bagaimana caranya agar suami tidak bosan makan makanan yang kami buat. 

Setiap hari aku sendiri berusaha mengganti menu makanan. Tapi entah kenapa rasanya yang aku buat itu-itu saja terus. Lucunya, di tempat penjual sayur yang ada disamping rumahku, setiap ada ibu yang datang sudah hal lumrah yang kami lihat dari mereka adalah berdiri lama menatap jenis sayur apa yang akan di beli. Padahal jika diperhatikan ada banyak jenis sayur yang tersedia disana. Tapi entah kenapa setiap ada yang datang selalu saja berdiri lama, memegang sayurnya kemudian menyimpan, mengambil yang lain lagi kemudian diliatin lama trus di simpan lagi. Yah, seperti itulah seterunya. Berdiri, menatap, mengambil, menyimpan , mengambil lagi, menyimpan lagi tanpa sepatah kata pun. Sang penjual pun kadang menertawai kami para pembeli  sambil mengatakan, “Bingung yah ^^ hahahahaha”. 

Namun aku beruntung bisa merasakan apa yang ibu saya rasakan. Selalu menyiapkan makanan buat ayah saya dan kami anak-anaknya tanpa pernah mengeluh dengan menu masakan yang berbeda setiap harinya. Karena itulah akupun semakin mencintai ibuku….

By: Aina Azzahrah (Ummu Ayyash)
Bengkulu, 18 September 2015

Baca Selengkapnya

Dia Pemilik Tulang Rusukku



Dia seorang lelaki, asli lelaki ^^.
Dia orang yang tidak aku kenal. Namanya pun sangat asing di telingaku. Sebab namanya memang tidak pernah muncul dikalangan teman-temanku, sahabat-sahabatku bahkan keluargaku. Sungguh dia sangat asing bagiku. Tidak pernah terbayang, dia adalah pemilik tulang rusukku. Maha Besar Allah yang Maha Mengatur semua kehidupan manusia di muka bumi ini, bahkan hewan dan tumbuhan pun tidak pernah lupuk dari pengontrolan-Nya.

"Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....." Qs.Al-An'aam:59

Awalnya aku berfikir, mungkin jodohku tidak jauh-jauh dari orang yang aku kenal atau orang yang mengenal aku.  Siapa lagi yang muncul dipikiranku kalau bukan teman sma  ataukah  teman organisasi di kampus seperti di himpunan jurusan dan UKM LDK atau kah teman daerahku sendiri “Bulukumba” Daerah yang terkenal dengan pembuatan perahu pinisi dan objek wisatanya. Siapa sangka semua yang aku sebutkan tadi semuanya melesat dari pikiranku.

Semua skenario Allah tak pernah terlintas di benakku. Sebelum menikah berbagai ujian dari Allah datang menghampiriku, salah satunya tidak lulus tes masuk S2 di salah satu Universitas ternama di Jawa lewat jalur beasiswa. Padahal saat itu aku benar-benar bersungguh-sungguh dalam belajar untuk mengikuti tes di Gedung Pascasarjana yang ada di Kampusku. Hal yang sangat sepeleh membuatku tidak lulus, 10 soal yang saya rasa sangat mudah namun aku jawab salah hanya karena salah liat bentuk soalnya.  Saat itu yang aku fikirikan, kenapa Allah mengujiku seperti ini. Sempat kumenangis, menangis dan tak ada orang yang tau. Tapi aku berusaha tegar, mungkin ini yang terbaik dari Allah. Padahal lulus beasiswa S2 adalah salah satu cita-citaku untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Yang membuatku bangkit saat itu adalah tidak mungkin hal sepeleh seperti ini bisa terjadi yang membuatku tidak lulus. Padahal sebelum tes jika latihan jawab soal-soal, tidak biasanya terlupuk seperti itu. Akhirnya aku pun berfikir bahwa mungkin Allah benar-benar tidak ingin aku lulus dan ada sesuatu dibalik itu semua. Baru kusadari, ujian tersebut adalah salah satu dari rentetan skenario Allah untuk mempertemukanku dengan dia yang saat ini menjadi suamiku. 

Semuanya terasa indah. Semuanya telah diatur oleh-Nya Dzat Yang Maha Segalanya, Dzat Yang Maha Penyayang.  Karena itu lah hari ini, jika ada keinginanku yang belum terpenuhi oleh Allah, hanya ada satu kata “BERSYUKUR”  karena itulah hal terbaik dari Allah buat kita. Allah punya rencana tersendiri buat hamba-Nya. Yang penting kita sudah berusaha dan berdoa, selebihnya kita kembalikan kepada Allah Dzat Yang Maha Pengatur dan Dzat Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi dan segala isinya.

Dia memang tidak aku kenal, tapi katanya dia sering berada di tempat majelis yang aku juga mendatanginya untuk menuntut ilmu di salah satu kampus yang juga sangat dekat dengan kampusku yaitu di mesjid kampusnya. Ternyata kami sering berada dalam tempat majelis yang sama, mencatat materi dari Ustadz yang sama tapi mungkin  dengan  waktu yang berbeda. Wallahu’alam.

Sekali lagi jika kita bersyukur atas semua kondisi kita, maka semuanya akan terasa menyenangkan.  Aku beryukur memiliki teman-teman yang sholih. Karena melalui merekalah atas izin Allah aku bisa bertemu dengannya. Bertemu dengannya pertama kali di dalam kamarku saat ia memakaikan cincin di jari manisku. Yah saat akad nikah. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Yang nampak terlihat olehku adalah tanganku bergetar, sangat bergetar. Hampir saja cincinnya tidak bisa masuk ke jariku.

Bismillah, saat itulah pertama kali aku melihat wajahnya secara langsung . Tepatnya tanggal 7 Ferbruari 2015. Maha Besar Allah atas segala sesuatu.

By: Aina Azzahrah (Ummu Ayyash)
Bengkulu, Jum’at  18 September 2015

Baca Selengkapnya

Aku Seorang Istri



Sekarang semuanya sudah berubah setelah aku menjadi istri.  Cita-cita semasa remaja dulu yang melambung tinggi ke angkasa raya seketika aku ganti menjadi cita-cita yang berkaitan dengan aku seorang istri. Yah memang tak mudah, tapi semuanya akan terasa mudah dan menyenangkan jika kita menysukurinya. Mungkin aku termasuk di dalamnya yang bersyukur menjadi istri dari suami yang aku anggap dia sholih, taat beribadah  dan berakhlak baik kepadaku.  Akupun  mencintainya, sangat mencintainya.

Meskipun sekarang aku tidak bekerja diluar, tapi aku merasa pekerjaanku sekarang semakin bertambah dengan statusku yang baru. Orang lain mungkin melihatnya aku pengangguran yang kerjanya hanya di dalam rumah. Tidak seperti  dulu, yang bisa terbang kesana kemari untuk berbagai aktivitas yang aku geluti. Singkatnya orang bilang, sayapku patah setelah menikah. Sudah tidak bisa beraktivitas lagi seperti dulu, dulu yang begitu banyak beraktivitas diluar rumah.  Sampai-sampai aku melupakan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang berbunyi, “Sebaik-baik wanita adalah di dalam rumahnya.”  Namun, sesungguhnya aku pun sangat bahagia dengan aktivitasku dulu yang sempat membuatku sedikit down pada masa awal setelah menikah karena tidak lagi beraktivitas seperti biasanya. Aku pun berfikir sayapku memang benar-benar  telah patah. 

Tiga hari setelah menikah, aku dibawa oleh suami ke Jakarta. Di Kota inilah awal aku merasakan perubahan yang begitu besar, rasanya seperti mimpi. Dalam sekejap statusku berubah dan saat itu pula kukatakan , “ternyata sekarang aku benar-benar telah menjadi seorang istri”.  Seseorang yang akan  berpengaruh besar dalam membawa kehancuran atau keharmonisan rumah tangga. Saat itu pula aku sadar, ada sesosok mahluk yang tidak halus alias laki-laki, berjenggot pula dengan bulu-bulu panjang di betis  yang begitu asing tertidur dengan pulasnya disampingku. Yah, dia tepat berada disampingku. Orang yang baru saja aku kenal, yang baru saja aku ajak bicara dan baru saja aku melihat wajahnya. Dialah suamiku yang akan menjadi bagian besar dalam hidupku, yang akan menjadi penyemangatku dan penyejuk mataku. Aku berharap pertemuan ini tidak hanya di dunia tapi juga di surga. Amin ya Rabbal ‘Alamin.


By: Aina Azzahrah
Di tulis  di Bengkulu, 17 September  2015 
Baru posting sekarang, soalnya lupa kalau pernah nulis.
 




Baca Selengkapnya